The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4,00%, Isyaratkan Satu Kenaikan Lagi pada 2026

Kamis, 17 September 2026 | 06:44:01 WIB

KANALEKONOMI.ID — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan ke kisaran target 3,75%-4,00% dalam rapat FOMC, keputusan bulat yang menandai berlanjutnya siklus pengetatan moneter. Proyeksi terbaru menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan hingga akhir 2026, dengan median suku bunga naik ke 4,1%.

Langkah ini memperpanjang siklus pengetatan yang sudah berjalan. Pasar obligasi dan ekuitas global akan mencermati sinyal lanjutan dari dot plot yang dirilis bersamaan dengan keputusan.

Dot Plot Tunjukkan Satu Kenaikan Lagi Sebelum Akhir 2026

Proyeksi suku bunga yang dikenal sebagai dot plot menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan suku bunga akan dinaikkan setidaknya satu kali lagi hingga akhir 2026. Empat pejabat di antaranya memperkirakan dua kenaikan tambahan.

Proyeksi median suku bunga naik menjadi 4,1% dari 3,75% pada Juni. Pejabat dengan proyeksi median memperkirakan suku bunga tetap berada di level 4,1% pada 2027.

Sebanyak delapan pejabat memperkirakan suku bunga bisa mencapai 4,4% pada periode yang sama. Sebaran proyeksi ini menunjukkan perpecahan pandangan di internal The Fed soal seberapa jauh pengetatan masih diperlukan.

Alasan The Fed: Inflasi Inti Masih di Atas Target

The Fed menyatakan kebijakan yang diambil "akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih cepat ke target komite sebesar 2%." Inflasi inti diperkirakan berada di level 3,4% pada akhir 2026, sedikit meningkat dari proyeksi 3,3% pada Juni.

Artinya, inflasi masih jauh di atas target 2%. Proyeksi yang justru naik menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya terkendali.

Di sisi pertumbuhan, pejabat The Fed dengan proyeksi median memperkirakan PDB tumbuh 2,3%. Angka ini naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,2%.

Belanja Domestik dan Pasar Tenaga Kerja Jadi Penopang

The Fed menyebut "meskipun ketidakpastian masih tinggi, sebagian disebabkan oleh perkembangan geopolitik, belanja domestik tetap tangguh." Bank sentral AS juga menegaskan "pertumbuhan produktivitas kuat dan investasi modal tetap kokoh."

Pada sisi ketenagakerjaan, The Fed menyatakan pertumbuhan lapangan kerja "sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja." Tingkat pengangguran hanya mengalami sedikit perubahan.

Kombinasi belanja rumah tangga yang kuat dan pasar tenaga kerja stabil memberi The Fed ruang untuk tetap mengetatkan kebijakan tanpa khawatir memicu resesi.

Dampak ke Pasar Indonesia dan Negara Berkembang

Kenaikan suku bunga AS memperlebar selisih imbal hasil dengan surat utang negara berkembang. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan mata uang Asia lainnya berpotensi meningkat.

Bagi investor Indonesia, sinyal satu kenaikan lagi hingga akhir 2026 berarti ruang penurunan suku bunga Bank Indonesia bisa lebih terbatas. Arus modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik juga berpotensi tertekan jika yield US Treasury terus naik.

Pelaku pasar akan menunggu data inflasi AS berikutnya untuk mengonfirmasi apakah proyeksi median 4,1% benar-benar terealisasi. Jika inflasi inti tidak turun sesuai jalur yang diharapkan, The Fed membuka opsi pengetatan lebih agresif.

Terkini