5 Temuan Riset soal Fenomena Scroll Media Sosial saat Bosan, Algoritma Justru Bikin Makin Lelah

5 Temuan Riset soal Fenomena Scroll Media Sosial saat Bosan, Algoritma Justru Bikin Makin Lelah
Seorang pengguna terlihat menggulir layar media sosial tanpa arah di Samarinda, Kalimantan Timur.

SAMARINDA — Fenomena menggulir layar media sosial tanpa tujuan kerap menjadi pelarian saat rasa bosan datang. Namun, sebuah penelitian terbaru justru menemukan bahwa kebiasaan ini bisa menjadi bumerang, di mana pengguna semakin merasa lelah karena dibanjiri terlalu banyak informasi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Acta Psychologica pada 2026 itu melibatkan 408 partisipan berusia 18–30 tahun. Hasilnya, kecenderungan mudah bosan atau boredom proneness berkorelasi signifikan dengan peningkatan information overload dan social media fatigue.

Mengapa Konten yang Melimpah Justru Bikin Lelah?

Peneliti menemukan bahwa kelebihan informasi menjadi mekanisme utama yang menghubungkan rasa bosan dengan kelelahan bermedia sosial. Artinya, semakin banyak konten yang dikonsumsi untuk mengusir kebosanan, semakin besar pula energi mental yang terkuras.

Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang melibatkan 286 pengguna media sosial. Studi tersebut mengonfirmasi adanya hubungan kuat antara boredom proneness dengan social media overload dan social media fatigue.

Peran Algoritma dalam Jeratan Scroll Tanpa Henti

Aliran konten yang tidak ada habisnya membuat pengguna tidak perlu menentukan sendiri apa yang ingin dilihat. Satu konten membawa ke konten berikutnya, hingga waktu berlalu tanpa disadari. Di sinilah media sosial berperan berbeda dari sekadar alat komunikasi.

Namun, banyaknya konten tidak selalu berbanding lurus dengan kepuasan. Para peneliti menyarankan agar pengguna memahami cara kerja konten yang dikurasi algoritma. Pemahaman ini dinilai dapat membantu mengurangi hubungan antara kebosanan, kelebihan informasi, dan kelelahan menggunakan media sosial.

Analisis 64 Studi: Faktor Pemicu Social Media Fatigue

Meta-analisis terhadap 64 studi dengan total lebih dari 28 ribu responden memperkuat temuan tersebut. Information overload, social overload, kecemasan terhadap media sosial, serta faktor perilaku tertentu disebut sebagai sejumlah pemicu utama social media fatigue.

Persoalannya, menurut peneliti, bukan semata-mata soal durasi menggulir layar. Pertanyaan yang lebih mendasar justru bermula dari alasan seseorang membuka aplikasi media sosial.

Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna?

Menyadari alasan membuka aplikasi—apakah untuk mencari informasi, berkomunikasi, mencari hiburan, atau sekadar mengisi kekosongan—menjadi langkah awal yang penting. Kesadaran ini membantu seseorang melihat kembali pola penggunaan media sosialnya.

Sebab, ketika rasa bosan justru membuat layar terus digulir tanpa tujuan, hiburan yang dicari belum tentu benar-benar membuat pikiran beristirahat. Berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri bisa menjadi cara sederhana untuk memutus siklus tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index