Rekor Baru Defisit Transaksi Berjalan US$ 12,5 Miliar, Calon Gubernur BI Angkat Bicara

Rekor Baru Defisit Transaksi Berjalan US$ 12,5 Miliar, Calon Gubernur BI Angkat Bicara
Defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026, tertinggi sepanjang sejarah.

KANALEKONOMI.ID — Jakarta, CNBC Indonesia — Tekanan terhadap fundamental ekonomi Indonesia kembali mengemuka. Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal II-2026 membengkak hingga US$ 12,5 miliar. Nilai ini setara dengan 3,3% dari PDB dan menjadi catatan terbesar secara nominal sepanjang sejarah pencatatan, setidaknya sejak kuartal I-2004.

Rekor sebelumnya terjadi pada kuartal II-2013, ketika defisit mencapai US$ 10,13 miliar. Adapun pada kuartal I-2026, posisi defisit masih berada di angka US$ 3,58 miliar. Artinya, dalam kurun waktu tiga bulan, defisit membengkak lebih dari tiga kali lipat atau bertambah sekitar US$ 8,91 miliar.

Calon Gubernur BI, Destry Damayanti, mengakui besarnya tekanan ini. "Jangka panjang kita punya tantangan sektor eksternal dari balance payment kita," ungkapnya dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Surplus Dagang Tergerus Hingga 84 Persen

Penyebab utama membengkaknya defisit adalah terkoreksinya kinerja perdagangan barang. Pada kuartal I-2026, neraca barang masih mencatat surplus US$ 8,21 miliar. Namun, tiga bulan kemudian, surplus tersebut ambles drastis menjadi hanya US$ 1,32 miliar.

Penurunan surplus ini mencapai US$ 6,89 miliar atau sekitar 83,92% secara kuartalan. Penyusutan tersebut berkontribusi sekitar 77,31% terhadap total pelebaran defisit transaksi berjalan. Artinya, pelemahan ekspor menjadi faktor dominan yang menekan neraca pembayaran.

Defisit Jasa Ikut Menekan Neraca Eksternal

Selain perdagangan barang, sektor jasa juga menjadi biang kerok. Defisit neraca jasa pada kuartal II-2026 tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah, yakni mencapai US$ 5,89 miliar. Angka ini melonjak dari US$ 4,39 miliar pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan defisit jasa tersebut menyumbang sekitar 16,86% dari total pembengkakan defisit transaksi berjalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor jasa masih tinggi, sementara daya saing ekspor jasa dalam negeri belum mampu menutup celah tersebut.

Destry menegaskan bahwa pekerjaan rumah ke depan adalah bagaimana mendorong kinerja ekspor, baik barang maupun jasa. "Jadi PR bagaimana agar ekspor bisa tingkatkan dan jasa. Ini selalu defisit karena jasa selalu negatif sehingga current account defisit karena di trade balance punya tantangan ekspor harus digenjot," pungkasnya.

Membengkaknya defisit transaksi berjalan menjadi sinyal yang harus diwaspadai bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Jika tidak segera diatasi, tekanan pada neraca pembayaran berpotensi berlanjut dan mempengaruhi persepsi investor terhadap perekonomian nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index