KANALEKONOMI.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja perdagangan luar negeri yang timpang pada bulan lalu. Sementara ekspor masih tumbuh solid, impor yang melonjak hampir tiga kali lipat lebih cepat telah memangkas ruang surplus hingga ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Nilai impor pada Juli 2026 mencapai US$26,09 miliar, sementara ekspor tercatat US$26,2 miliar. "Impor pada Juli 2026 sebesar US$26,09 miliar," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Selisih yang kian tipis antara ekspor dan impor ini menjadi sinyal adanya tekanan permintaan domestik yang kuat, namun di sisi lain berisiko melemahkan nilai tukar rupiah.
Non-Migas Masih Jadi Andalan, Sektor Migas Justru Terpukul
Jika dirinci, sektor non-migas tetap menjadi penopang utama kinerja ekspor Indonesia. Tercatat, ekspor non-migas tumbuh 6,84% secara tahunan menjadi US$25,43 miliar pada Juli 2026. Capaian ini menunjukkan permintaan global terhadap produk manufaktur dan komoditas unggulan Indonesia masih terjaga di tengah perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang.
Kondisi berbeda terjadi pada sektor migas. Ekspor komoditas ini justru ambles 14,58% menjadi hanya US$0,79 miliar. Penurunan ini sejalan dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia serta normalisasi volume ekspor setelah periode sebelumnya yang relatif tinggi.
Kontrasnya, impor yang tumbuh 27,02% mengindikasikan geliat industri dalam negeri yang tengah berekspansi, terutama untuk kebutuhan bahan baku dan barang modal.
Mengapa Lonjakan Impor Perlu Dicermati Pelaku Pasar?
Bagi investor dan pelaku bisnis, data ini bukan sekadar angka statistik. Laju impor yang jauh melampaui ekspor berarti defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) berpotensi melebar, yang pada akhirnya memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) akan membaca tren ini dengan saksama dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. Jika tekanan impor berlanjut dan cadangan devisa tergerus, ruang bagi BI untuk melonggarkan suku bunga menjadi semakin sempit. Sebaliknya, pelemahan rupiah yang terlalu dalam justru bisa memicu inflasi impor.
Proyeksi dan Tantangan untuk Semester II 2026
Normalisasi harga komoditas global menjadi tantangan tersendiri bagi ekspor Indonesia. Di sisi lain, pemerintah tengah berupaya mendorong hilirisasi untuk menambah nilai tambah ekspor, sekaligus membatasi impor barang konsumsi yang tidak produktif.
Data Juli ini akan menjadi bahan evaluasi penting. Kuncinya ada pada kemampuan menjaga pertumbuhan ekspor di tengah ketidakpastian ekonomi global, sambil memastikan impor tetap fokus pada kebutuhan produktif industri, bukan konsumsi. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah hingga akhir tahun akan sangat ditentukan oleh keseimbangan dua kekuatan ini. Investasi mengandung risiko.