KANALEKONOMI.ID — Ekonomi dan mobilitas masyarakat Bali terus menanjak seiring pulihnya sektor pariwisata. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali tumbuh 5,78 persen pada kuartal II 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun.
Penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi penopang utama dengan kontribusi 21,91 persen. Angka ini sejalan dengan arus kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai 605.013 kunjungan pada Juni 2026, naik 4,63 persen dari bulan sebelumnya. Penumpang penerbangan internasional yang berangkat dari Bali juga meningkat 4,93 persen menjadi 650.838 orang per bulan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan, perkembangan ini harus diimbangi perencanaan transportasi yang menjawab kebutuhan mobilitas jangka panjang warga dan wisatawan.
Kereta Api sebagai Alternatif Transportasi Publik
Bali selama ini mengandalkan jalan raya dan transportasi udara. Mobilitas yang tinggi menciptakan kebutuhan akan moda alternatif yang mampu menghubungkan pusat aktivitas warga, kawasan wisata, serta bandara secara efisien.
"Perkembangan ekonomi dan aktivitas pariwisata Bali perlu diikuti dengan perencanaan transportasi yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas ke depan. Melalui kesepakatan ini, kami bersama pemerintah daerah mulai mempelajari bagaimana perkeretaapian dapat menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi Bali," ujar Bobby dalam siaran resminya.
Kajian ini tidak berarti pembangunan langsung dimulai. Tahap awal masih berupa studi komprehensif untuk memetakan rute potensial, tingkat kebutuhan, hingga integrasi dengan moda yang sudah ada.
Apa Saja yang Akan Dikaji?
Ruang lingkup kesepakatan bersama yang berlaku lima tahun ini mencakup inventarisasi data, penyusunan kajian kelayakan, hingga Detail Engineering Design (DED). Ketiga pihak juga akan membahas integrasi antarmoda, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
"Bali memiliki karakter mobilitas dan pengembangan wilayah yang khas. Kebutuhan, potensi, integrasi antarmoda, hingga kelayakan pengembangan perkeretaapian perlu dipelajari secara menyeluruh agar rencana yang disiapkan memiliki dasar yang kuat," kata Bobby.
Kesepakatan ditandatangani langsung oleh Bobby Rasyidin, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa. Kerja sama dapat ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama sesuai kewenangan masing-masing pihak.
Dari Kajian Menuju Kepastian Regulasi
KAI membawa pengalaman panjang mengelola perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia. Namun, setiap tahapan kajian akan disiapkan secara cermat dan sesuai regulasi agar hasilnya layak secara teknis maupun finansial.
"KAI siap membawa pengalaman dan kompetensi perkeretaapian dalam proses kajian bersama. Setiap tahap akan disiapkan secara cermat, prudent, dan sesuai regulasi agar rencana yang dihasilkan feasible serta memberikan manfaat jangka panjang," tegas Bobby.
Kajian ini menjadi langkah awal yang menentukan. Jika hasil studi menunjukkan kelayakan, pembangunan jalur kereta di Bali akan menjadi proyek transportasi besar pertama di Pulau Dewata, sekaligus menjawab tantangan mobilitas di salah satu destinasi wisata utama Indonesia.